Ruangan ICU Penuh Ayah Tak Tertolong…Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun

Ruangan ICU Penuh Ayah Tak Tertolong…Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun

Ruangan ICU Penuh Ayah Tak Tertolong…Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun-Keluarga besar kami masih dalam suasana duka karena Ayahanda tercinta telah meninggalkan kami semua,Ibu dan 5 orang anak serta 15 Cucu pada Minggu tanggal 5 Maret 2017 di usia 78 tahun.Ayah dimakamkan dikampung halaman Desa Balapulang Kulon Balapulang Kab Tegal.
Ruangan ICU

Kami sekeluarga sudah ikhlas melepas kepergian Ayah karena kami yakin setiap yang berjiwa pasti akan mati.Namun saya sendiri tidak menyangka kepergian Ayah akan secepat itu bagaimana tidak waktu itu hari Jumat 3 Maret 2017 Ayah masih hidup walaupun kurang sehat.Ayah sudah tidak bisa berkomunikasi lagi karena sudah pikun sehingga jika ayah sedang sakit kami hanya tahu dari erangan kesakitan.

Sebelumnya ayah tinggal di kampung berdua bersama Ibu mungkin hampir 2 tahun ayah dan ibu tinggal dikampung karena sebelumnya mereka ikut dengan kami di Bekasi namun karena Ibu tidak betah akhirnya memilih tinggal dikampung.Memang diakhir-akhir menjelang kepergian ayah sejak 3 tahun yang lalu ayah sering sakit mulai dari darah tinggi,prostat hingga Jantung namun ayah saya masih bisa mendapatkan perawatan kesehatan dengan baik meski menggunakan BPJS.

Mungkin karena usianya sudah tua kondisi ayah semakin menurun puncaknya beberapa bulan sebelum ayah wafat,ayah sudah mulai pikun sehingga tidak bisa diajak komunikasi lagi sehingga jika ada keluhan penyakit,kami anak-anaknya Cuma bisa meraba-raba sakitnya dan musibah itu akhirnya terjadi sekitar seminggu sebelum wafatnya ayah sering menggigil badannya panas akhirnya Ayah langsung dibawa ke Bekasi menggunakan mobil pribadi kakak agar anak-anaknya bisa mengurus dan membawa ke rumah sakit soalnya kalau dikampung rumah sakitnya jauh kasihan kalau harus bolak-balik ke rumah sakit.

Baca juga :
7 Tahun Sudah Kubersamamu Dalam Suka Duka

Sesampainya di Bekasi pada tanggal 1 Maret 2017 untuk sementara Ayah tinggal di Rumah adik perempuan karena rumahnya suasananya sejuk biar ayah betah.Malamnya menurut keterangan adik saya ayah terus menggigil walaupun tidak terus—terusan kadang berhenti.Melihat kondisi tersebut adik saya berinisiatif memanggil dokter kerumah untuk memeriksa ayah dan setelah diperiksa dokter tidak berani mengambil tindakan alasannya ayah ada riwayat jantung dan darah tinggi dan menyarankan agar ayah segera dirawat.

Akhirnya adik saya berinisiatif pergi ke rumah sakit yang terdekat dengan rumah untuk menanyakan apakah bisa merawat ayah saya sayangnya menurut pihak rumah sakit tidak ada dokter jantungnya sehingga ayah tidak bisa dirawat di Rumah sakit tersebut.Setelah berunding dengan adik dan kakak kami sepakat untuk membawa ayah ke Rumah sakit daerah Kab Bekasi dan pada hari Jumat tanggal 3 maret ayah di bawa ke UGD RSUD Cibitung sampai disana sekitar jam 15.00 dan langsung mendapatkan penanganan dari Tenaga medis mulai dari pemberian oksiken,Cairan infus,pemeriksaan jantung,tes darah,tes urin serta rontgen

Ruangan ICU
1 Hari Menjelang Ayah Wafat
Menjelang  Magrib Berdasarkan hasi pemeriksaan dokter ayah dinyatakan harus masuk ICU karena sudah parah rinciannya tidak perlu saya sebutkan disini sayangnya dan itu yang membuat kami sedih ruang ICU di rumah sakit tersebut penuh sehingga ayah tidak bisa mendapatkan perawatan intentsif di ICU.Pihak rumah sakit menyarankan untuk mencari rumah sakit lain yang ada ruang ICU yang kosnog dan apa boleh buat akhirnya kakak saya berinisiatif mencari rumah sakit lain yang ada ruang ICU kosongnya sedangkan saya dan Ibu menunggu ayah.

Mungkin bukan rezeki ayah atau memang sudah takdirnya harus seperti itu ternyata dari sekian rumah sakit yang didatangi tidak ada yang kosong.Akhirnya kakak saya memutuskan ayah tetap dirawat di Rumah sakit tapi bukan di ruang ICU tapi di ruangan perawatan biasa dan karena kondisinya parah ayah masuk ruang isolasi.Sebenaranya pihak rumah sakit sudah memperingatkan kalau memang maunya dirawat dikamar biasa resiko ditanggung sendiri rumah sakit tidak mau disalahkan jika nantinya ada masalah.Karena tidak ada pilhan lain kakak saya cuma bisa mengiyakan.

Belum genap sehari ayah masuk ruang isolasi ternyata Allah bekehendak lain sekitar pukul 04.00 tanggal 5 maret saya mendapatkan kabar kalau ayah sudah meninggal.Inna lillahi wa inna lillahi rojiun saya hanya bisa mengucapkan kalimat itu sambil meneteskan air mata. Ada rasa penyesalan kenapa hari Sabtu saya tidak ikut menunggu ayah di rumah sakit sehingga tidak bisa menemani ayah hingga nafas yang terakhir dan kesedihan itu masih terasa hingga sekarang.

Dan yang membuat saya semakin sedih ayah belum sempat mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal seribu pertanyaan masih menggelayuti pikiran saya,”Coba kalau ruang ICU nya tidak penuh,Coba kalau Rumah sakit lain ada yang mau menerima atau Coba kalau punya uang yang banyak mungkin ayah bisa dibawa kerumah sakit bonafid…”.Namun akhirnya saya harus menyadari Ayah sudah tiada tidak ada gunanya berandai-andai dan itulah yang terbaik buat ayah.

Selamat jalan Ayah beristirahatlah dengan tenang di Alam sana Doa Kami selalu menyertaimu.
Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar

Berkomentarlah sesuai topik No Link No Spam