Sumbangan Tapi Wajib

Sumbangan Tapi Wajib

DWISU.WEB.ID, Sumbangan Tapi Wajib – Jangan tinggal diperumahan kalau ekomomi pas-pasan, Inilah saran bagi Anda yang ingin tinggal diperumahan. Sejatinya perumahan dihuni oleh masyarakat menengah keatas karena tidak mudah untuk bisa membeli rumah diperumahan meskipun secara kredit dan rumahnya subsidi. Bagaimana tidak cicilan perbulanya saja minimal Rp.900.000 itu belum termasuk biaya  lainnya seperti uang muka.

Buka Bersama

Faktanya tidak selalu perumahan dihuni oleh masyarakat mampu atau pegawai terkadang ada juga kalangan berpenghasilan pas-pasan seperti  pedagang atau buruh memilih tinggal diperumahan . Bukan berarti membeli/mengambil rumah tapi mengontrak rumah diperumahan . Langkah ini dipilih karena mengontrak rumah diperumahan lebih murah dibandingkan dengan mengontrak rumah petakan.

Kebetulan diperumahan saya tinggal, saya jumpai penujal makanan yang mengontrak rumah disana dan rata-rata sudah berkeluarga. Meski sewa rumahnya murah namun dibalik itu ada biaya-biaya yang mungkin tidak diketahui sebelumnya oleh si pengontrak rumah contohnya iuran bulanan, patungan membangun fasilitas RT atau sumbangan di acara-acara keagamaan belum lagi membayar listrik dan Air (Jika memakai PAM).

Bagi mereka yang berpenghasilan lebih mungkin iuran-iuran tersebut bukan jadi masalah tapi bagi mereka yang penghasilannya tidak menentu misalnya wirausahawan seperti saya yang kalau usaha lagi ramai ada uang tapi kalau pas sepi dompet juga kering, tentunya cukup memberatkan tapi mau tak mau harus membayarnya.

Kalau untuk keperluan yang penting seperti keamanan, atau sampah mungkin masih bisa diterima tapi kalau iuran tersebut hanya untuk urusan perut atau makan-makan sepertinya iuran semacam itu perlu dikaji ulang. Seperti yang terjadi diperumahan saya, setiap memasuki bulan Ramadhan di Masjid perumahan selalu mengadakan acara buka bersama yang diselingi dengan pengajian yang diadakan setiap hari Minggu.

Acara buka bersama ini tentunya harus ada makanan takjil dan Urusan makanan ini menjadi  tanggung jawab seluruh warga sehingga dimintalah sumbangan kepenghuni perumahan disekitar Masjid (1 RW). Karena harus menyediakan makanan takjil untuk warga 1 RW tentu biayanya juga besar. Akhirnya dimintalah sumbangan wajib yang sudah ditentukan besarnya dan tidak boleh kurang.

Mau tak mau saya membayar sumbangan tersebut meskipun saya seringnya tidak hadir diacara buka bersama tersebut. Saya anggap sumbangan wajib ini aneh karena umumnya sumbangan semacam ini suka rela. Berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya acara buka bersama ini sebetulnya kurang tepat sasaran karena faktanya yang datang bukan hanya warga yang wajib puasa tapi banyak juga dari kalangan anak-anak sehingga pada saat pembagian panitia harus pandai-pandai membagi makanan takjil.

Dalam pertimbangan saya kalau niatnya buka puasa bersama kenapa tidak mencontoh Masjid-masjid lain dimana Masjid menyediakan makanan takjil  yang dananya bisa diambil dari Kas Masjid atau donator kemudian mengundang siapa saja untuk berbuka bersama disana. Dengan cari ini tentu keutamaannya jauh lebih besar karena barang siapa yang menyediakan makanan berbuka puasa maka akan mendapatkan pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa.

Sekali lagi artikel ini bukan berarti saya tidak setuju dengan kebijakan RT yang “Memaksa” warganya untuk menyumbang tapi hanya sekedar saran karena kita tidak tahu keadaan ekonomi masing-masing penghuni perumahan dan namanya juga sedekah harus ikhlas tanpa paksaan. Wassalam
Advertisement

Baca juga:

Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

2 komentar

Saya dulu pernah ngontrak diperumahan 4 tahun, Alhamdulillah pas ada uang kalau ada orang minta sumbangan. Kalau cerita seperti itu laporan keuangannya dicek saja Sumber dana dari masyarakat kalau memang benar benar ga ada alternatif lain. Dan itu pun benar harus sukarela siapa tahu yg cukup byk uang nyumbanagnya banyak.

Balas

Yang dipaksakan itu nggak baik hehe

Balas

Berkomentarlah sesuai topik No Link No Spam